Rasimedia.com – Kita sering menyaksikan orang berebut menjadi pemimpin, tetapi jarang menyaksikan orang berebut menjadi pelayan. Jabatan dicari karena menawarkan pengaruh, kehormatan, dan akses. Sementara pekerjaan melayani justru kerap dianggap sebagai konsekuensi yang melelahkan setelah jabatan diperoleh.
Di sinilah Persoalan Kepemimpinan Bermula.
Kita terlalu sering mengukur pemimpin dari posisi yang didudukinya, bukan dari manfaat yang ditinggalkannya. Seseorang disebut berhasil karena mampu memenangkan pemilihan, menduduki jabatan strategis, atau mengendalikan organisasi.
Padahal, kemenangan mendapatkan kursi belum tentu berarti kemenangan menghadirkan kemaslahatan. Karena itu, kepemimpinan perlu dikembalikan kepada satu kata yang sederhana, yaitu khidmat.
Khidmat berarti pengabdian. Ia bukan sekadar bekerja untuk orang lain, melainkan kesediaan menempatkan amanah dan kepentingan bersama di atas kepentingan diri. Dalam kerangka ini, memimpin bukan kenaikan status, melainkan peningkatan tanggung jawab.
Masalah kepemimpinan kita barangkali bukan kekurangan orang yang mampu memimpin, melainkan kekurangan orang yang memahami bahwa memimpin berarti berkhidmat.
Dari Kekuasaan ke Pelayanan Jabatan pada hakikatnya bersifat sementara. Seseorang datang, menjalankan amanah, lalu pergi dan digantikan orang lain. Yang tersisa bukan kursinya, melainkan dampak dari keputusan dan kebijakan yang pernah dibuat.
Karena itu, seorang pemimpin perlu mengubah pertanyaan dalam dirinya: bukan “Apa yang saya dapatkan dari jabatan ini?”, melainkan “Apa yang dapat saya berikan melalui jabatan ini?”
Perubahan Pertanyaan Itu Tampak Sederhana, Tetapi Menentukan Arah Kepemimpinan.
Jika jabatan dipandang sebagai sumber keuntungan pribadi, kekuasaan akan cenderung dipertahankan dengan segala cara. Namun, jika jabatan dipahami sebagai amanah, kekuasaan akan dilihat sebagai instrumen pelayanan.
Dalam tradisi Islam, amanah bukan konsep abstrak. Al-Qur’an memerintahkan agar amanah diberikan kepada yang berhak dan ketika menetapkan perkara di antara manusia dilakukan dengan adil (QS An-Nisa: 58).
Pesannya melampaui ruang keagamaan. Setiap kekuasaan yang menyangkut kepentingan orang banyak menuntut pertanggungjawaban dan keadilan.
Ketika Jabatan Menjadi Amanah
Seorang pemimpin mungkin pandai berbicara tentang pengabdian. Namun, kualitas pengabdiannya baru terlihat ketika kepentingan pribadi berhadapan dengan kepentingan umum.
Apakah ia tetap adil ketika keputusan itu tidak menguntungkan dirinya? Apakah ia bersedia transparan ketika tidak ada yang mengawasi? Apakah ia mampu memberikan ruang kepada orang lain untuk tumbuh meskipun hal itu berarti berkurangnya pengaruh dirinya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu lebih penting daripada sekadar seberapa fasih seorang pemimpin berbicara tentang integritas.
Sebab kepemimpinan bukan terutama persoalan retorika. Ia adalah persoalan laku. Kita tidak kekurangan slogan tentang pelayanan. Yang sering kurang adalah praktik pelayanan itu sendiri.
Kepemimpinan yang meninggalkan Jejak
Setiap pemimpin akan meninggalkan jabatan. Foto pelantikan akan menjadi arsip. Nama yang tertulis di papan jabatan akan diganti. Ruang kerja yang pernah ditempati akan digunakan oleh orang lain.
Namun, Ada Sesuatu Yang Dapat Bertahan Lebih Lama: Manfaat.
Orang mungkin lupa siapa yang pernah menjadi ketua sebuah organisasi. Mereka mungkin tidak mengingat semua program yang pernah dibuat. Tetapi mereka akan mengingat pemimpin yang pernah membantunya ketika berada dalam kesulitan, pemimpin yang mau mendengarkan ketika ia tidak memiliki tempat untuk mengadu, atau pemimpin yang memberinya kesempatan ketika orang lain menutup pintu.
Di Situlah Sesungguhnya Ukuran Kepemimpinan.
Bukan seberapa tinggi seseorang berada ketika berkuasa, tetapi seberapa banyak orang lain yang mampu ia angkat ketika berkuasa.
Kepemimpinan yang berkhidmat karena itu tidak berorientasi pada keabadian jabatan. Ia justru menyiapkan regenerasi. Ia tidak takut kehilangan pengaruh karena keberhasilan seorang pemimpin bukan ketika semua orang bergantung kepadanya, melainkan ketika ia mampu melahirkan orang-orang yang dapat melanjutkan kebaikan setelah dirinya pergi.
Pada akhirnya, memimpin bukan berarti berdiri paling tinggi agar dilihat banyak orang. Memimpin berarti bersedia berada paling depan ketika harus bertanggung jawab, berada di tengah ketika harus mendengar, dan memberi ruang ketika orang lain harus tumbuh. Jabatan adalah posisi. Khidmat adalah orientasi.
Kekuasaan Memberikan Kewenangan, Tetapi Khidmat Memberikan Makna.
Jika kepemimpinan kembali dipahami sebagai amanah untuk berkhidmat, kita tidak lagi sibuk mencari pemimpin yang ingin dilayani. Kita akan mencari pemimpin yang siap melayani.
Sebab pada akhirnya, pemimpin yang paling layak dikenang bukanlah mereka yang paling lama memegang kekuasaan, melainkan mereka yang paling lama meninggalkan manfaat.
Ditulis Oleh Sahrin
















